Kamis, 19 Juli 2012

Peran Perpustakaan dalam Perubahan Sosial


Peran Perpustakaan dalam Perubahan Sosial
Perpustakaan merupakan salah satu pranata social yang diciptakan oleh masyarakat dan dipelihara oleh masyarakat. Sejak zaman dulu, perpustakaan selalu identik dengan tujuan masyarakat. Hal tersebut terjadi karena perpustakaan merupakan hasil ciptaan masyarakat. Misalnya pada 600 SM, Raja Assurbanipal mendirikan perpustakaan besar di kota Niniveh dengan tujuan untuk menyimpan hasil seni dan pengetahuan masyarakat Babylonia serta bertugas untuk menyebarkannya kepada masyarakat. Pada abad menengah, gereja mendirikan perpustakaan gereja dan biara yang berfungsi menyimpan karya gereja dan menyebarkannya kepada masyarakat. Kemudian pada akhir abad 19 dan awal abad 20an, pemerintah Amerika Utara dan eropa Barat mendirikan perpustakaan umum untuk tujuan penyebarluasan pendidikan bagi semua golongan dan pranata sosial masyarakat.
Perpustakaan merupakan pranata yang dapat menemukan kembali informasi yang permanent serta luas ruang lingkupnya. Peran perpustakaan juga memiliki efek sosial, ekonomi, politik dan edukatif.
Berkaitan dengan aspek sosial budaya, maka secara umum perpustakaan berperan dalam :
1. Penyimpanan berbagai penemuan sejarah, pemikiran dan ilmu pengetahuan yang telah ditemukan pada masa lalu yang direkam dalam bentuk tulisan atau bentuk tertentu.
2. Media untuk mempelajari, meneliti, mengkaji dan mengembangkan bukti-bukti sejarah masa lalu untuk digunakan sebagai landasan penuntun dalam perencanaan masa depan.
3. Sebagai agen perubah sosial. Perpustakaan dengan segala karakteristiknya bisa menjadi agen perubah sosial.
Peranan lain yang dapat dilakukan oleh perpustakaan berkaitan dengan perubahan social adalah :
1. Merupakan sumber informasi, pendidikan, penelitian, preservasi khasanah budaya bangsa serta tempat rekreasi yang sehat, murah an bermanfaat.
2. MMMerupakan media atau jembatan yang berfungsi menghubungkan antara sumber infromasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam koleksi perpustakaan dengan para pemakainya.
3. Sebagai sarana untuk menjalin dan mengembangkan komunikasi antar sesama pengguna serta antara penyelenggara dengan masyarakat.
4. Lembaga untuk mengembangkan minat baca dan budaya baca.
5. Sebagai fasilitator, mediator dan motivator bagi mereka yang ingin mencari, memenfaatkan dan megembangkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya.
6. Sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi penggunanya. Mereka dapat belajar secara otodidak, melakukan penelitian, menggali dan memanfaatkan sumber informasi dan ilmu pengetahuan.
7. Sebagai pembimbing dan media konsulatatif terkait dengan fungsi prpustakaan secara umum.
8. Sebagai ukuran/barometer atas kemajuan masyarakat yang bisa dilihat diantaranya dari intensitas kunjungan dan pemakaian perpustakaan.
Di Indonesia, peran perpustakaan dalam perubahan sosial menghadapi beberapa kendala yakni: (basuki:2001)
1. Perpustakaan (khususnya perpustakaan umum, yang akan berinteraksi erat dengan masyarakat), umumnya didirikan oleh pemerintah daerah, sehingga visi dan pengetahuan kepala daerah tentang perpustakaan akan menentukan eksistensi dan pengembangan perpustakaan. Apalagi dengan diberlakukannya otonomi daerah. Di satu sisi, bila kepala daerah sebagai pemegang kendali ”ngeh” terhadap pengembangan perpustakaan, maka perpustakaan akan berkembang dan sebaliknya, bila para pengambil kebijakan kurang ”concern” dengan makna perpustakaan, maka perpustakaan akan mengalami keadaaan yang hidup enggan, mati pun tak mau. Perpustakaan hany berdiri sebagai formalitas saja.
2. Minat dan budaya baca masyarakat yang masih rendah. Hal ini terkait dengan pola pendidikan awal sejak mereka.
3. Belum ada biografi yang menyatakan keberhasilan seseorang berkat perpustakaan. Misalnya kalau di Amerika ada Andrew Carnegic yang dinyatakan sebagai raja baja berkat kerajinannya membaca di perpustakaan.
4. Sistem pendidikan yang mengarah ke ujian. Semestinya system pendidikan membina masyarakat untuk cinta membaca. Menyukai pengetahuan daripada hanya mengejar lulus ujian lalu setelah itu bebas.
5. Adanya tembok informasi berupa pelarangan terhadap beberapa tebitan yang dinilai “membahayakan”. Akhirnya yang dinilai benar hanyalah produk pemerintah. Terlepas dari benar atau tidak, akhirnya masyarakat memperoleh pendidikan dan informasi yang tidak selalu benar.
Selama perjalanan sejarahnya, dalam dunia perpustakaan muncul prinsip kepustakawanan bahwa perpustakaan diciptakan dan dipelihara oleh masyarakat. Perpustakaan memiliki fungsi. Namun karena diciptakan dan dipelihara oleh masyarakat, maka peranan perpustakaan dalam menghadapi perubahan sosial budaya tidaklah signifikan. Peranan perpustakaan Nampak pada anggota masyarakat, bukan seluruh masyarakat. Peranan tersebut dapat dilakukan melalui perpustakaan umum. Anggota masyarakat adalah kunci keberhasilan bagi pengembangan masyarakat itu sendiri. Dan lebih kecil lagi lingkupnya dalam dunia kepustakawanan, maka pustakawan memiliki potensi untuk menjadi agen-agen perubah sosial.
Daftar Pustaka :
1. Iskandar. Peran Perpustakaan Pesantren dalam Pendidikan.(www.pustakawan.pnri.go.id), diakses tanggal 31 Maret 2008)
2. Basuki, Sulistyo. Potensi Perpustakaan dalam menghadapi Krisis Sosial Budaya. (@radix.net, diakses tanggal 1 April 2008)
3. Surachman, Arif. Perpustakaan Perguruan Tinggi Menghadapi perubahan Paradigma Informasi. Dari http:arifs.staff.ugm.ac.id. Diakses 31 Maret 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar